
Kembali pada tahun 1963, Louis hanya seorang pria normal, sama seperti Kamu dan Aku. Dia menjalani hidupnya, bergaul dengan teman – teman sebayanya, bekerja dengan menggunakan sepeda motornya, bergabung dengan geng, mengurus adiknya …. hal-hal biasa. Sampai semuanya berhenti. Sampai dia harus pergi. Tapi tidak semuanya diselesaikan dan ia membuat keputusan yang membuat dia menjadi The Carrier
………………………………………………………………………………………………………….
Rumah itu penuh dengan canda tawa dari seorang gadis cantik yang berusia tujuh tahun. Saudara laki-lakinya, Louis, sedang bermain dengan-nya, membuat-nya terbang melintasi rumah sederhana mereka, sementara ibu mereka tersenyum hangat kepada mereka sambil menyetrika pakaian. Mereka adalah keluarga kecil, ayah mereka meninggalkan mereka semua beberapa tahun lalu, ketika Emily mungil lahir, meninggalkan mereka berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Mereka bukan keluarga yang lengkap, tapi mereka bahagia.
Louis telah meninggalkan SMA untuk memulai bekerja dan membantu ibunya, juggling antara pekerjaan dan kehidupan social-nya sendiri. Meskipun hampir semua uang yang dia peroleh diperuntukan untuk keluarganya, dia tidak mengeluh. Sama sekali tidak mengeluh… Dia mencintai ibunya dan adik perempuannya dengan segenap hatinya dan ia akan melakukan apa saja untuk membantu mereka untuk memiliki kehidupan yang layak. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di kota sementara ia harus merawat rumah dan Emily. Louis harus menjadi tulang punggung di usia lima belas tahun dan dia merasa baik-baik saja dengan itu, ia bahkan tidak membenci ayahnya lagi. Mereka senang, mereka tidak punya cukup uang, tetapi mereka memiliki satu sama lain.
“ Turunkan Aku Louis! ” Kata Emily sambil kecicikan “ Oh, kamu enggak mau terbang seperti malaikat – malaikat kecil itu ? ” Tanya Louis, masih menggendongnya tinggi dan berputar bersama-nya “ Aku kira kamu sangat berharap untuk bisa terbang ” Sambung Louis “ Adduuuhhh aku mulai pusing ” Dia tertawa, begitu pula Louis, sebelum menurunkannya dan memberikannya pelukan hangat. “ Baiklah, pelajaran terbang selesai, dan kamu harus mengerjakan PR mu! ” Kata Louis, menahan berat badan Emily di lutut-nya sambil mengelus lembut rambut pendek cokelat-nya. Emily tidak ingin mempunyai rambut panjang, seperti ibu-nya. Dia ingin seperti Louis. Jadi setiap Helena, ibu mereka, memotong rambut Louis dia harus memotong rambut Emily juga. Emily adalah cahaya bagi Louis, dan Louis adalah cahaya bagi Emily. “ Tapi PR sangat membosankan, kamu saja enggak ngerjain PR ! ” Dia cemberut dan Louis tertawa. “ Itu karena aku harus bekerja, yang mengingatkan aku akan… umm aku harus pergi. Jadilah anak yang baik! ” Kata Louis sambil mendaratkan sebuah ciuman kecil di dahi Emily. “ Pulanglah lebih awal ! Aku sangat menyayangi-mu! ” Kata Emily. Louis hanya tersenyum, dia tidak menjanjikan apa – apa. Louis memiliki pekerjaan di restoran dan ia bekerja sampai larut malam, tapi setelah itu dia tidak kembali ke rumah, ia punya rencana lain.
Dia bangkit berdiri dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya, yang memintanya untuk berhati-hati. Dia tahu rencana Louis setelah shift berakhir, tapi dia tidak mengatakan semuanya dengan keras sehingga Emily tidak akan mendengar mereka.
“Aku akan baik-baik saja Mum, Jangan khawatir” Janjinya dengan senyum lebar sebelum mencium pipinya dan meninggalkan rumah, meraih kunci motor-nya dan jaket denim-nya. Helm-nya sudah berada di motor-nya jadi dia hanya melompat dan pergi ke restoran, siap bekerja sepanjang hari.
+ + +
Shift-nya pun akhirnya berakhir dan Louis merasa sangat lelah, tapi ia masih harus pergi ke tempat lain, di mana semua teman-temannya sedang menunggunya. Tak satu pun dari mereka mengenalnya sejak SMA, mereka hanya orang-orang yang bertemu dengan-nya satu malam ketika ia pergi keluar berjalan, kewalahan untuk semua tanggung jawab yang dia punya, putus asa karena ia melihat ibunya menangis, sedih karena adiknya tidak memiliki ayah lagi . Dia telah pergi, berlari, berteriak-teriak di bawah hujan ketika sekelompok bikers menemukannya. Malam itu, dia pikir dia akan mati, Louis kira, mereka akan membunuhnya atau melakukan sesuatu kepada-nya, tapi, mereka malah membantu-nya dan menyambut-nya dalam geng mereka.
Louis belajar banyak dengan mereka tentang motor dan mereka membantu Louis memperbaiki motor-nya. Mereka mengajarinya bermotor. Mereka mengajak Louis untuk berlomba dimana dia bisa membuat, menambah sedikit uang lebih untuk ibunya. Mereka adalah keluarga kedua Louis.
Jadi setelah Shift, Louis akan selalu pergi untuk menemui mereka. Louis mencintai keluarganya dan ia puas dengan hidupnya. Tapi untuk pergi kesana dan melupakan semua tanggung jawab-nya untuk sementara, untuk beberapa jam sangat bagus bagi Louis. Setelah semua yang terjadi, dia hanya seorang cowok dua puluh dua tahun, ia masih sangat muda. Dan adrenalin untuk bermotor di malam hari, daripada hanya tidur dirumah sangat tidak sama. Sangat berbeda.
Suatu hari, ia pergi ke gudang di mana geng-nya bertemu, ia turun dari motornya dan berjalan menuju teman – teman-nya. Lima belas anggota geng menyambutnya dengan senyum dan anggukan kepala mereka dan sampai Louis berhenti di samping Scott, orang yang dianggapnya hampir seperti seorang ayah. Louis juga percaya bahwa ia juga seperti anak bagi Scott.
“Bagaimana harimu, Nak?” Scott bertanya, membungkus lengannya di Louis dalam satu pelukan erat dan kasar sebelum membiarkan dia pergi.
” Panjang ” jawab Louis sambil mengangkat bahu. “Anak-anak orang kaya membuatku gila”
“Pada semua orang Lou. Mereka seperti wabah,” Scott berkomentar sambil tertawa.
“Lagi pula, kita memiliki kabar baik. Ada balapan malam ini dan kamu bisa mendapatkan uang yang cukup banyak, aku yakin ibumu akan menggunkannya dengan sangat baik ”
“Emily membutuhkan sepatu baru, sepatu-mya sudah berlubang sekarang ” aku Louis. Dari semua orang di geng, hanya Scott yang tau tentang isu-isu moneter Louis di rumah.
“ dan kamu akan membeli sepatu baru itu besok, nak”
Setelah beberapa saat di sana, sebelum memeriksa semua motor mereka, mereka membuat kelompok dan akan bertemu di persimpangan di mana balapan akan berlangsung. Louis yakin, dia adalah seorang biker yang baik. Dia belajar semuanya dari Scott dan ia adalah yang terbaik.
Setelah mereka menemukan jalan, mereka bertemu dengan semua geng lain. Mereka keras, minum, bahkan berkelahi. Khas pengendara pada waktu itu di malam hari. Louis sudah terbiasa dengan hal itu, ia bahkan tidak bergeming ketika dua cowok melompat di depannya, perkelahian antara diri mereka sendiri. Louis hanya melaju melewati mereka dan mengikuti geng-nya sendiri.
Dua puluh menit kemudian ia sudah siap untuk berlomba, Louis yakin dia akan menang, ditambah biker lain sudah minum beberapa beer. Louis sudah mendengar tentang dia, dia bernama Harry, dia adalah seorang pria yang kuat dan ia memiliki banyak tato. Emily akan begitu takut padanya.
” Siap kalah,pecundang ? ” Harry mengolok-oloknya, dan Louis mengabaikannya.
“Apa hah? Ibu-mu nggak ngijinin kamu berbicara dengan orang asing? ” Pria itu bersikeras dan Louis memutar matanya.
“Tidak, tapi aku hanya tidak akan membiarkan diriku membuang-buang waktu ku dengan orang bodoh seperti mu! ” ia berbelok ke kanan hanya untuk memberinya seringai sombong sebelum fokus pada gadis yang akan memberi tanda untuk memulai.
“Aku akan menghabisimu malam ini! ” Harry berjanji dan Louis hanya memutar matanya. Dia sudah sering bertemu dengan orang yang seperti Harry sebelumnya. Semua biker berada di tempat, semangat dari para biker lain sangat terasa di atmosfer, semua orang berteriak dan mencoba untuk lebih dekat agar bisa melihat perlombaan. Mesin sudah menderu keras dan Louis siap untuk menang. Rasa adrenalin dan tegang menjadi satu, mengalir di darahnya dan semua otot-nya dan ia tahu bahwa dia akan mendapatkan kemenangan malam itu dan berarti sepatu baru untuk Emily, kehidupan yang lebih baik untuknya sehingga tidak ada yang akan mengejeknya di sekolah lagi. Dia akan melindungi adiknya, dia akan merawatnya.
Bandana turun dan Louis, meluncur dalam satu gerakan fluida, meninggalkan Harry di belakang. Itu adalah kemampuan spesial Louis, cepat dan tak terduga. Tapi Harry juga sangat baik, ia memiliki motor besar dan cepat, dan meskipun Louis hebat, dia tidak memiliki uang untuk memperbarui motornya sepanjang waktu. Namun, dia melakukan yang terbaik untuk menjaga keunggulan yang sudah ia dapatkan.
Harry semakin dekat dan dekat dan Louis menambah kecepatan-nya, tetapi motor-nya sudah tidak bisa lagi, tidak bisa lebih cepat. Tapi harus bisa. Untuk Emily. Harus bisa.
Tapi ternyata tidak. Harry menangkap dia dan tidak hanya itu, ia menyerang Louis. Motor Harry lebih besar dari Louis dan ia melemparkan-nya pada Louis, berulang-ulang untuk menakut-nakuti. Tapi Louis mencoba untuk menjaga keseimbangan, ia berjuang untuk tetap berada dalam jalur, tapi saat Harry benar-benar menendangnya dengan kakinya, keduanya jatuh.
Dalam hitungan detik, motor Louis berada tepat di atas dia, menyeretnya melintasi trotoar, mengguling-nya, mematahkan semua tulang-tulangnya, kehilangan bagian di sepanjang jalan. Rasanya tak ada habisnya, seperti itu tidak akan pernah berhenti, tapi itu terjadi, dan akhirnya berhenti. Dan Louis masih hidup …nyaris. Dia bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, tapi ia sadar, ia bisa melihat Harry dengan motor di atas tubuhnya beberapa meter jauhnya, tapi tetap saja, dia bahkan tidak berteriak. Louis tidak berteriak lagi. Dia tidak merasakan apa-apa.
Dia pindah, atau ia mencoba untuk bergerak tapi itu hanya membuat ia merasakan sesuatu, rasa sakit yang begitu brutal dan Louis berteriak seperti dia tidak pernah berteriak sebelumnya. Kesakitan, ia memandang tubuhnya, dengan darah yang bercucuran seperti air mancur.
tapi itu bukan yang terburuk, tidak semua.
Dia juga melihat bagaimana tangki bensin itu berlubang dan bensin menetes di seluruh tubuhnya. Sangat tidak baik dan berbahaya dan jika ia tidak bergerak cepat, ia akan mati, di sana. Tapi bagaimana dia bisa pindah jika ia tertimpa sebuah bar besi besar melintasi tubuhnya dan menjepit-nya di trotoar?
Louis mulai cemas, mencoba untuk bergerak tapi itu hanya melukai dirinya lebih dan lebih dan dia mulai benar-benar merasakan betapa tulang-tulang-nya patah, kakinya di sudut yang paling tidak wajar, tangannya tidak bergerak. tidak satu bagian dari tubuhnya menrespon panggilan mentalnya, ia terjebak dan tidak ada seorang pun yang berada dalam perjalanan mereka. Harry dan dia terjebak di sana.
tapi kemudian yang terburuk terjadi, motor Harry meledak, ledakan besar dan keras yang mungkin akan membuat semua orang mendengarnya. Dan ledakan itu akan membawa orang – orang, yang akan menggandeng mereka ke tempat kecelakaan … tapi itu akan terlambat karena pada saat mereka akan datang ke tempat kejadian, Louis sudah akan mati. Dia tahu itu. Dia menerimanya.
“Emily” Dia berbisik, berpikir bahwa ia tidak akan membelikannya sepasang sepatu baru, bahwa ia tidak akan melindunginya dari anak-anak jahat di sekolah, ” Mum” yang disebutnya berikutnya. Siapa yang akan membantunya di rumah? yang akan membawa uang ke rumah sekarang? Mereka membutuhkannya. Mereka tidak bisa ditinggal sendirian. “Aku minta maaf” rengeknya dan pada saat kata-kata itu meninggalkan bibirnya, sepedanya meledak juga, mengambil hidupnya bersama ledakan itu, tapi tidak cintanya, tidak tanggung jawab-nya, bukan tekadnya.
Ledakan itu mengambil tubuhnya, bukan Jiwanya.
//